Rabu, 07 November 2012

konsep transcultural nursing

KATA PENGANTAR

 
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang ”KONSEP TRANSCULTURAL NURSING” ini. Makalah  ini merupakan laporan yang dibuat sebagai bagian dalam memenuhi kriteria mata kuliah. Salam dan salawat kami kirimkan kepada junjungan kita tercinta Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, para sahabatnya serta seluruh kaum muslimin yang tetap teguh dalam ajaran beliau.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih ada kekurangan disebabkan oleh kedangkalan dalam memahami teori, keterbatasan keahlian, dana, dan tenaga penulis. Semoga segala bantuan, dorongan, dan petunjuk serta bimbingan yang telah diberikan kepada kami dapat bernilai ibadah di sisi Allah Subhana wa Taala. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfat  bagi kita semua, khususnya  bagi penulis sendiri.



Makassar,  5 November 2012

                                                                                                            Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................         i
DAFTAR ISI...........................................................................................        ii
BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang.........................................................................        1
  2. Rumusan Masalah..................................................................        2 
  3. Tujuan........................................................................................        2

BAB II PEMBAHASAN
  1. Pengartian transcultural nursing..........................................        3
  2. Konsep transcultural nursing................................................        4
  3. Proses Keperawatan Transkultural......................................        6
BAB III PENUTUP
  1. Kesimpulan...............................................................................      1
  2.  Saran .........................................................................................      11
DAFTAR PUSTAKA............................................................................      12


BAB I
PENDAHULUAN
1.   LATAR BELAKANG
Suku Bugis dan Makassar merupakan suku-bangsa utama yang mendiami Sulawesi Selatan, disamping suku-bangsa utama lainnya seperti toraja dan Man-dar. Suku Bugis mendiami Kabupaten Daerah Tingkat II Bulukumba, Sinjai, Bone, Wajo, Sidenreng-Rappang (Sidrap), Pinrang, Polewali-Mamasa (Polmas), Enrekang, Luwu, Pare-pare, Barru, Pangkajene-kepulauan (Pangkep) dan Maros. Suku Makassar mendiami Kabupaten Daerah tingkat II Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan Selayar walaupun mempunyai dialek tersendiri. Berdasarkan rumpun bahasa Daerahnya, maka di SUL-SEL ini ada enam rumpun bahasa, seperti: Bahasa Makassar, Bahasa Bugis, Bahasa Mandar, Bahasa Luwu, Bahasa Toraja, Bahasa Massenrempulu’. Salah satu rumpun bahasanya yaitu, rumpun bahasa Makassar meliputi daerah Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Selayar, Kajang (Bulukumba), Manipi (Sinjai Barat). Rumpun bahasa Bugis meliputi daerah Sinjai, Bone, Wajo, Pinrang, Sidenreng-Rappang (sidrap), Bulukumba, Pare-Pare, juga di sebagian daerah Pangkajene - Kepulauan (Pangkep), Maros, Mandar, Enrekang, Barru dan palopo (Luwu).
Adapun berdasarkan budayanya ini berbeda-bada antara satu daerah dengan daerah lain. Disini kami akan membahas tentang budaya dari Daerah Bugis terkhusus dalam masalah TRANSCULTURAL NURSING.


2.   RUMUSAN MASALAH
1.    Pengartian Transcultural Nursing
2.    Konsep Transcultural Nursing
3.    Proses Keperawatan Transkultural
3. TUJUAN
1.    Mengetahui pengartian Transcultural Nursing
2.    Mengetahui konsep Transcultural Nursing
3.    Mengetahui proses Keperawatan Transkultural












BAB II
PEMBAHASAN
1.     Pengertian Transcultural Nursing
a.    Transcultural
Bila ditinjau dari makna kata , transkultural berasal dari kata trans dan culture, Trans berarti alur perpindahan, jalan lintas atau penghubung. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia; trans berarti melintang, melintas, menembus, melalui.
Cultur berarti budaya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kultur berarti, kebudayaan yaitu cara pemeliharaan atau pembudidayaan. Kepercayaan, yaitu nilai – nilai dan pola perilaku yang umum berlaku bagi suatu kelompok dan diteruskan pada generasi berikutnya, sedangkan cultural berarti : Sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan.
Jadi, transkultural adalah lintas budaya yang mempunyai efek bahwa budaya yang satu mempengaruhi budaya yang lain. Atau pertemuan kedua nilai – nilai budaya yang berbeda melalui proses interaksi sosial.
b.    Nursing
Pada kamus Kedokteran Dorland, Nursing diartikan sebagai: pelayanan yang mendasar atau berguna bagi peningkatan, pemaliharaan, dan pemulihan kesehatan serta kesejahteraan atau dalam pencegahan penyakit, misalnya terhadap bayi, oranh sakit atau cedera, atau lainnya untuk setiap sebab yang tidak mampu menyediakan pelayanan seperti itu bagi diri mereka sendiri.

c.    Transcultural Nursing
Transcultural Nursing merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai-nilai budaya (nilai budaya yang berbeda, ras yang mempengaruhi pada seorang perawat saat melakukan asuhan keperawatan kepada klien / pasien (Leininger, 1991).
Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan
untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya
kepada manusia (Leininger, 2002).
2.   Konsep Transcultural Nursing
a.    Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berpikir, bertindak dan mengambil keputusan.
b.    Nilai Budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan.
c.    Perbedaan budaya Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal daei pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakantermasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang danindividu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).
d.    Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa budayanya adalah yang terbaik di antara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain.
e.    Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.
f.     Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan asal muasal manusia
g.    Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik di antara keduanya.
h.    Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia.
i.      Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing, mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia
j.      Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk membimbing, mendukung atau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.
k.    Cultural imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada kelompok lain.
3.   Proses Keperawatan Transkultural
Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit (Sunrise Model). Geisser (1991) menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew and Boyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
a.    Tahap Pengkajian
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada “Sunrise Model” yaitu:
1.    Faktor teknologi (technological factors). Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu mengkaji: persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini.
2.    Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors). Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yangsangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan di atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat adalah: agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan.
3.    Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kindship and social factors). Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor: nama lengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan hubungan klien dengan kepala keluarga.
4.    Faktor nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural values and lifeways factors). Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah: posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri.
5.    Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors). Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah: peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.
6.    Faktor ekonomi (economical factors). Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh.Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat di antaranya: pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor atau patungan antar anggota keluarga.
7.    Faktor pendidikan (educational factors). Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah: tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.
b.    Tahap Diagnosa Keperawatan. 
Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang budayanya yang dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensi keperawatan (Giger and Davidhizar, 1995). Terdapat tiga diagnose keperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transkultural yaitu: gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur, gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural dan ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini.
c.    Tahap Perencanaan dan Pelaksanaan.
Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan transkultural adalah suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu: mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengankesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.
1.    Cultural care preservation/maintenance: a) Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses melahirkan dan perawatan bayi; b) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien; c) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat.
2.    Cultural care accomodation/negotiation: a) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien; b) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan, c) Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien dan standar etik.
3.    Cultual care repartening/reconstruction: a) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan melaksanakannya; b) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya kelompok; c) Gunakan pihak ketiga bila perlu; d) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua, e) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan.
Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budaya masing-masing melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka. Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akan terganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.
d.    Tahap Evaluasi.
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.


BAB III
PENUTUP
1.   KESIMPULAN
Keperawatan transkultural adalah suatu proses pemberian asuhan keperawatan yang difokuskan kepada individu dan kelompok untuk mempertahankan, meningkatkan perilaku sehat sesuai dengan latar belakang budaya.
2.   SARAN
Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budaya masing-masing melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya-budaya mereka. Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akan terganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.







DAFTAR PUSTAKA
Anni (2011). Transcultural nursing from http://anni.wordpress.com/2011/06/25/kultural-nursing/ , 5 November 2012.
Asep sopyan Ramadhani (2012). Konsep keperawatan lintas budaya transcultural nursing from http://supyan.stikeskuningan.ac.id/2012/02/01/konsep-keperawatan-lintas-budaya-transcultural-nursing/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar